Pemerintah Daerah Berikan Komitmen untuk Sawahlunto menjadi World Heritage UNESCO

© exploresawahlunto/desriulead

World Heritage

 

Sawahlunto, KNIU — Pemerintah daerah berkomitmen untuk mewujudkan Kota Sawahlunto menjadi kota wisata tambang yang berbudaya di tahun 2020. Visi ini dirumuskan pada tahun 2001 bersama dengan dewan legislatif daerah setempat dengan didasari keinginan untuk menghidupkan kembali Kota Sawahlunto yang dinyatakan hampir mati seiring perusahaan tambang batu bara yang berhenti berproduksi. Pernyataan tersebut dilontarkan Deri Asta selaku Wali Kota Sawahlunto melalui paparannya pada Seminar Nominasi Warisan Dunia “Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto: Menuju Penetapan Sebagai Warisan Dunia UNESCO”. Seminar ini berlangsung pada 14-15 Desember 2018 di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, Sumatera Barat.

 

© exploresawahlunto

Demi mewujudkan visi tersebut, Sawahlunto sebagai kota dengan tambang batu bara tertua di Asia Tenggara juga telah dinominasikan dan masuk ke dalam daftar tentatif (tentative lists) UNESCO World Heritage per 30 Januari 2015. Penominasian Sawahlunto ditekankan pada tiga area yang menggambarkan aktivitas industri tambang batu bara pada zamannya yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Barat, yaitu Kota Tambang Sawahlunto (Area A), Fasilitas dan Infrastruktur Perkeretaapian (Area B), dan Fasilitas Penyimpanan Batu Bara di Emmahaven/Teluk Bayur (Area C).

 

Saat ini proses penominasian Sawahlunto sebagai Warisan Dunia (World Heritage) telah masuk ke tahap evaluasi teknis oleh International Council on Monuments and Sites (ICOMOS). Atas surat pernyataan yang dikeluarkan Sekretariat Warisan Dunia UNESCO pada tanggal 1 Maret 2018, proses evaluasi telah dilaksanakan oleh ICOMOS pada 2-7 September 2018 lalu dengan mengunjungi beberapa tempat yang mewakili ketiga area yang dinominasikan, yaitu Silo Teluk Bayur, Stasiun Kayu Tanam, Jembatan Tinggi di perbatasan Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman, Stasiun Solok, dan Sungai Lasi. Berdasarkan evaluasi tersebut, ICOMOS menyatakan bahwa Kota Pertambangan Tua Sawahlunto memenuhi kategori kompleks pertambangan batu bara besar di dunia, seperti halnya Tambang Batu Bara Chatterley-Whitfield di Inggris, dan Tambang Batu Bara Zollern 2-4 di Jerman.

 

Selain menominasikan Kota Sawahlunto sebagai cagar budaya warisan dunia (world heritage), menurut Deri Asta, komitmen pemerintah daerah Kota Sawahlunto maupun Provinsi Sumatera Barat juga diwujudkan dalam bentuk revitalisasi dan konservasi kawasan dan bangunan bersejarah terkait, seperti Komplek Dapur Umum (Gudang Ransum), Lubang Tambang Mbah Soero, dan Rumah Pejabat dan Tambang (sekarang Museum Alat Musik, Museum Tari, dan Museum Lukisan Etno Kayu). Selain itu upaya pelestarian warisan budaya juga digalakkan dengan menyelenggarakan berbagai festival budaya di Sawahlunto. (DAS)

 

World Heritage

 

 

Bacaan terkait:

Warisan Budaya Dunia UNESCO Sawahlunto Dinilai Tim ICOMOS

Yogyakarta Menyambut Generasi Muda ASEAN sebagai Duta Warisan Dunia

 

 

 

 

 

 

Ikuti akun media sosial kami:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply