Global Education Monitoring Report 2016

Pendidikan dan pembangunan berkelanjutan: Hubungan kedua hal dan mengapa hubungan ini penting

Bumi: Kelestarian lingkungan

Perbuatan manusia secara pribadi maupun kolektif menciptakan tekanan sangat besar terhadap bumi dan makhluk hidup yang menghuninya. Umat manusia jelas turut menyebabkan penurunan kualitas lingkungan, membuat keragaman hayati dengan cepat lenyap dan memicu perubahan iklim, sehingga tindakan umat manusia juga harus memberikan solusi terhadap tantangan-tantangan ini.

Pendidikan dapat memainkan peran besar dalam transformasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup dalam lingkungan yang lebih lestari, selaras dengan prakarsa dari pemerintah, masyarakat madani dan sektor swasta. Pendidikan membentuk nilai dan perspektif. Pendidikan juga memberikan kontribusi dalam pengembangan keterampilan, konsep dan alat yang dapat dipakai untuk mengurangi atau menghentikan praktik-praktik yang tidak ramah lingkungan.

Beragam peran yang dimainkan pendidikan dalam kesinambungan tidak selalu bersifat positif. Pendidikan dapat pula turut mengakibatkan praktik-praktik yang menghalangi kesinambungan, antara lain pemakaian sumber daya yang berlebihan, serta memperburuk lenyapnya pengetahuan dan cara hidup alami yang relatif ramah lingkungan. Pendidikan mungkin perlu dibentuk dan diubah untuk memastikan dampak yang diciptakannya bersifat positif.

Perilaku manusia mengakibatkan krisis lingkungan

Tiga pemahaman paling lazim tentang bagaimana perilaku manusia mengakibatkan degradasi lingkungan mencakup demografi, gaya hidup modern dan perilaku individu. Penjelasan dari sudut demografi adalah sudah terlalu banyak orang di bumi: populasi global meningkat tiga kali lipat antara tahun 1950 dan 2015, dan diperkirakan akan bertambah satu miliar lagi sehingga penduduk dunia akan berjumlah delapan setengah miliar orang pada tahun 2030. Sementara konsep gaya hidup modern memusatkan perhatian kepada konsumsi sumber daya per kapita yang lebih tinggi oleh orang yang tinggal di daerah perkotaan dan negara yang lebih kaya. Negara tempat standar hidup tumbuh pesat melihat dampak yang diciptakannya terhadap lingkungan meningkat nyaris dua kali lipat dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2012, kebanyakan negara dengan penghasilan tinggi meninggalkan jejak ekologi yang tidak ramah lingkungan. Penjelasan perilaku individu memandang individu sebagai sumber masalah lingkungan sekaligus solusi potensial bagi masalah itu melalui, misalnya, kebijakan yang mendorong daur ulang, pemakaian sepeda dan mobil dengan bahan bakar efisien.

Belajar adalah faktor penting untuk mengatasi tantangan-tantangan ini

Pendidikan memiliki peran kunci untuk dimainkan dalam mengatasi tantangan lingkungan. Pendidikan, khususnya bagi anak perempuan dan perempuan, merupakan cara paling efektif meredam pertumbuhan penduduk, meningkatkan otonomi perempuan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesuburan dan pemilihan waktu kehamilan. Pendidikan dapat memberikan mata pencaharian lebih baik dengan meningkatkan penghasilan, dan orang-orang terampil sangat dibutuhkan bagi transformasi perekonomian dan sistem pangan. Pendidikan dapat mempengaruhi perilaku pribadi dan kolektif terhadap lingkungan melalui pendekatan kontemporer, tradisional dan seumur hidup terhadap kegiatan belajar.

Pendekatan kontemporer: belajar melalui sekolah

Sekolah membantu murid mengerti masalah lingkungan yang spesifik, konsekuensi masalah dan jenis tindakan yang dibutuhkan untuk mengatasinya. Pengetahuan tentang lingkungan semakin banyak dimasukkan ke dalam kurikulum resmi sekolah. Analisis terhadap 78 kurikulum nasional menunjukkan 55% memakai istilah ‘ekologi’ dan 47% menggunakan istilah ‘pendidikan lingkungan’.

Di India misalnya, menyusul keputusan Mahkamah Agung, lembaga-lembaga pemerintah pada tahun 2003 mulai menyusun materi pendidikan lingkungan yang panjang lebar, sehingga lebih dari 300 juta murid di 1,3 juta sekolah menerima pelatihan tentang pendidikan lingkungan.

Pendidikan lingkungan mendorong gaya hidup berkelanjutan, pengurangan limbah, pemakaian energi yang lebih baik, peningkatan pemakaian transportasi umum, dukungan bagi kebijakan pro-lingkungan, dan kebijakan tegas tentang lingkungan. Di Estonia dan Swedia, di mana pembangunan berkelanjutan merupakan bagian dari kurikulum, siswa di sana memiliki peluang lebih besar—dibandingkan siswa di negara tanpa materi tersebut—untuk memberikan jawaban yang tepat mengenai ilmu lingkungan dalam Program 2006 untuk Penilaian Siswa Internasional. Sebagian sekolah mengambil pendekatan ‘seluruh sekolah’ terhadap pendidikan lingkungan. Penelitian terhadap sekolah semacam itu di Inggris (Britania Raya) menunjukkan peningkatan dalam etos sekolah, kesehatan dan proses belajar murid, dan penurunan dalam jejak ekologi sekolah.

Pendekatan tradisional: belajar melalui masyarakat

Pengetahuan tradisional – khususnya yang bersifat alami – di bidang seperti pertanian, produksi dan penyimpanan pangan memainkan peran penting dalam kelestarian lingkungan selama berabad-abad. Banyak sekali contoh yang menunjukkan praktik pengelolaan lahan tradisional yang dilakukan penduduk asli kini diakui secara global sebagai pendekatan unggul untuk melestarikan keragaman hayati dan memelihara proses ekosistem. Di Kolumbia, Dewan Pemukiman Berkelanjutan Bangsa Amerika menerapkan konsep bien vivir (hidup dalam kondisi yang baik), yang mengakui kontribusi masyarakat penduduk asli, misalnya dalam proyek daerah hunian masyarakat berbahasa Spanyol yang ramah lingkungan di daerah perkotaan, desa tradisional yang lestari, dan pusat pendidikan berkelanjutan.

Pengetahuan alami mengenai daerah sekitar memberikan kontribusi kepada berfungsinya ekosistem, sistem peringatan dini bencana alam, serta penyesuaian dengan, dan ketangguhan menghadapi perubahan iklim. Prakarsa Sistem bagi Pedesaan Alaska di Amerika Serikat, di mana siswa berinteraksi dengan tetua penduduk asli merupakan contoh sekolah yang belajar dari pengetahuan alami. Memberikan instruksi sekolah dalam bahasa daerah setempat juga turut mendorong pertukaran pengetahuan antargenerasi.

Pendekatan belajar sepanjang hidup: belajar melalui dunia kerja dan kehidupan sehari-hari

Di luar pendidikan formal, lembaga pemerintah, organisasi agama, kelompok masyarakat nirlaba, organisasi buruh dan sektor swasta, semua dapat membantu mengubah perilaku individu dan kolektif.

Kampanye yang didukung pemerintah dapat meningkatkan kesadaran mengenai masalah lingkungan, menunjukkan penyebabnya dan memberikan sinyal bagaimana orang dapat mengatasi masalah itu. Pada tahun 2015, pemerintah Etiopia bersama para mitra meluncurkan kampanye kesadaran masyarakat berjangka waktu dua tahun, yang ditujukan untuk mendorong pemakaian produk-produk penerangan yang menggunakan cahaya matahari.

Tokoh pemimpin agama, budaya dan masyarakat dapat membantu menyebarkan nilai dan perilaku yang mendukung lingkungan. Contohnya antara lain advokasi lingkungan oleh Paus Francis, Dalai Lama dan Asosiasi Umat Muslim bagi Aksi Perubahan Iklim.

Melalui kampanye penyebaran informasi kepada masyarakat, sejumlah proyek, kemitraan dan kerja sama di bidang lingkungan, lembaga swadaya masyarakat (LSM) memainkan peran vital dalam mengerahkan dukungan masyarakat bagi pelestarian lingkungan. Kelompok kampanye yang bekerja melalui dunia maya seperti Avaaz, yang mempunyai 44 juta anggota di 194 negara, membantu meningkatkan kesadaran tentang lingkungan dengan beragam inisiatif, misalnya kampanye berjangka waktu dua tahun untuk melarang pestisida pembunuh lebah.

Menghadapi perubahan iklim membutuhkan pendekatan terpadu terhadap kegiatan belajar

Pendidikan meningkatkan ketangguhan seseorang terhadap risiko yang berkaitan dengan iklim. Pendidikan juga mendorong mereka mendukung, dan ikut terlibat dalam tindakan yang ditujukan untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan. Memperluas akses ke pendidikan merupakan langkah yang lebih efektif untuk mengatasi efek perubahan iklim daripada investasi di bidang infrastruktur seperti proyek dinding laut dan sistem irigasi. Pendidikan kaum perempuan mengurangi kematian akibat bencana alam. Sejumlah proyeksi menunjukkan jika kemajuan pendidikan terhambat, maka diperkirakan di masa depan angka kematian yang terkait dengan bencana alam akan meningkat 20% setiap dekade. Masyarakat yang menghadapi risiko paling besar dari peristiwa yang berkaitan dengan iklim umumnya hidup di negara dengan tingkat pencapaian pendidikan yang rendah dan tidak setara.

Pendidikan dapat membantu masyarakat menyiapkan diri untuk, dan beradaptasi dengan bencana alam yang terkait iklim. Studi yang dilakukan terhadap Kuba, Republik Dominika dan Haiti menemukan bahwa kurangnya pendidikan dan tingkat melek huruf yang rendah membuat orang tidak mengerti tentang peringatan terhadap bencana alam. Di Filipina, masyarakat setempat bekerja sama dengan pejabat bidang pendidikan dan mitra lain untuk mengajari kaum muda tentang beradaptasi dengan perubahan iklim, yang turut membangun ketangguhan masyarakat.