Indonesia Tambah Tiga Cagar Biosfer Dunia Baru

30th Meeting ICC MAB, Palembang
©MAB Indonesia, LIPI

Indonesia kembali menambah tiga kawasan baru ke dalam daftar cagar biosfer dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Tiga kawasan di Indonesia yang ditetapkan sebagai cagar biosfer tersebut adalah Berbak-Sembilang, Sumatera Selatan-Jambi; Betung Kerihun Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; serta Rinjani-Pulau, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan bertambahnya tiga kawasan tersebut, jumlah cagar biosfer di Indonesia yang ditetapkan UNESCO menjadi 14 kawasan.

Selain ketiga kawasan di Indonesia, dalam sidang ke-30 The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO yang berlangsung pada 23-28 Juli 2018 di Palembang, Sumatera Selatan juga ditetapkan 19 daerah lain dari beberapa negara sebagai cagar biosfer, seperti Lower Prut di Moldova dan Quirimbas di Mozambik. Moldova dan Mozambik merupakan dua negara anggota baru di Jaringan Cagar Biosfer Dunia atau World Network of Biosphere Reserve (WNBR). Dengan bertambahnya cagar-cagar biosfer baru, Jaringan Cagar Biosfer Dunia saat ini berjumlah 686 situs yang tersebar di 122 negara, termasuk 20 situs lintas batas.

Ketiga kawasan yang ditetapkan UNESCO pada 25 Juli 2018 ini memperpanjang daftar cagar biosfer di Indonesia yang telah ditetapkan sebelumnya yang berjumlah 11 kawasan, yaitu Gunung Gede-Pangrango, Cibodas, Jawa Barat (1977); Komodo, Nusa Tenggara Timur (1977); Lore Lindu, Palu, Sulawesi Tengah (1977); Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (1977); Gunung Leuser, Langkat, Sumatera Utara (1981); Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (1981); Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Riau (2009); Wakatobi, Sulawesi Tenggara (2012); Bromo Tengger Semeru-Arjuno, Pasuruan, Jawa Timur (2015); Taka Bonerate-Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (2015), dan Belambangan, Jawa Timur (2016). Dengan ditambah tiga kawasan baru, jumlah luas total keempat belas cagar biosfer di Indonesia adalah 18 juta hektar dan luas zona inti 3,6 juta hektar.

Menurut Prof. Dr. Ir. Yohanes Purwanto selaku Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB UNESCO Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), langkah selanjutnya yang harus dilakukan setelah ditetapkan sebagai cagar biosfer dunia adalah implementasi konsep cagar biosfer yang memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi keragaman hayati, budaya, maupun untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar sebagai efek promosi kawasan itu ke mancanegara. “Banyak investasi akan masuk berupa riset maupun proyek penting lain yang berdampak pada pembangunan berkelanjutan di kawasan itu,” ujar Prof. Purwanto.

Ia juga menambahkan himbauan agar semua pihak dapat bekerja sama untuk menjaga cagar biosfer yang telah ditetapkan. “Setelah ditetapkan, maka tanggung jawab dari pemeliharaan cagar biosfer dunia ini tidak hanya berada di tangan pemerintah daerah saja tetapi juga merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dan semua pihak terkait termasuk masyarakat sekitar. Harapannya, cagar biosfer yang ditetapkan dapat terpelihara,” ucap Prof. Purwanto. Berkaitan dengan pemeliharaan kelestarian cagar biosfer, Prof. Purwanto juga menyampaikan tantangan terbesar yang akan dihadapi. Tantangan tersebut adalah proses koordinasi antara pihak-pihak terkait. “Karena cagar biosfer dikelola secara multi-stakeholders, tantangannya adalah koordinasi antar semua pihak.” ujar Prof. Purwanto. Selain itu, tantangan-tantangan lain adalah pembentukan payung hukum nasional dan peraturan-peraturan daerah mengenai cagar biosfer, proses sosialisasi untuk masyarakat sekitar, petugas kawasan cagar biosfer dan pegawai pemerintah daerah setempat, serta mengatasi kegiatan illegal yang dilakukan masyarakat di sekitar kawasan cagar biosfer.

Untuk rencana selanjutnya, Komite Nasional Program MAB telah menyusun rencana penambahan pengajuan kawasan sebagai cagar biosfer dunia yang berasal dari Indonesia, seperti Pulau Togean di Sulawesi Tengah, Merapi Merbabu, Tambora dan Maros yang sudah dilakukan persiapan sejak tahun lalu. Pihaknya berkomitmen, dari empat proposal pengajuan cagar biosfer tersebut minimal dua hingga tiga sudah bisa diajukan pada tahun ini. “Proses pengajuan proposal kawasan untuk menjadi cagar biosfer memang terbilang panjang yakni berkisar dua hingga tiga tahun, tergantung persiapannya seperti apa,” ucap Prof. Purwanto.