Indonesia Terpilih Sebagai Presiden Dewan Koordinasi Cagar Biosfer Dunia

Sidang ke-30 The Man and Biosphere International Co-ordinating Council (MAB-ICC) UNESCO tengah berlangsung pada 23-28 Juli 2018 di Palembang, Sumatera Selatan. Man And Biosphere adalah program antar pemerintah yang diluncurkan pada tahun 1971 oleh UNESCO, yang bertujuan untuk menetapkan dasar ilmiah bagi peningkatan harmonisasi hubungan antara manusia dan lingkungannya. Dewan pengelola MAB, yaitu biasanya disebut sebagai MAB Council atau International Co-ordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (ICC-MAB), terdiri dari 34 Negara Anggota yang dipilih oleh Konferensi Umum UNESCO yang bertugas sebagai badan penentu kebijakan strategis program MAB dan melakukan pertemuan setahun sekali. Pada sidang kali ini, selain Negara Anggota ICC-MAB, hadir pula perwakilan-perwakilan dari negara anggota UNESCO lainnya sebagai observer. Tercatat lebih dari 300 delegasi dari 48 negara mengikuti sesi sidang ke-30 di Palembang ini.

Salah satu agenda utama dalam sesi pleno pertemuan tersebut adalah pemilihan Presiden (Chairperson) ICC-MAB. Pada pemilihan yang dilaksanakan pada Selasa, 24 Juli 2018, Indonesia dipercaya oleh Negara Anggota dan terpilih sebagai Presiden (chair person) ICC-MAB. Turut pula dipilih beberapa Wakil (Vice-Chair) dari masing-masing regional, yaitu Nigeria mewakili Grup Afrika, Sudan mewakili Grup Arab, Swedia mewakili Grup Eropa 1, Estonia mewakili Grup Eropa 2, dan Honduras untuk wakil dari Amerika-Karibia.

Prof. Dr. Enny Sudarmonowati yang merupakan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah Presiden ICC-MAB terpilih untuk periode 2018-2020. Dalam pidato sambutannya, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati menyampaikan mengenai enam prioritas untuk program MAB. Prioritas yang pertama adalah dengan membuat payung hukum, sehingga terbentuk pengakuan resmi (formal recognition) untuk program MAB di masing-masing negara anggota, termasuk di Indonesia. Prioritas selanjutnya adalah memperkuat hubungan antara program MAB dengan program UNESCO lainnya (seperti UNESCO Global Geopark) untuk mendorong pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan/sustainable development goals (SDGs). Prioritas ketiga berupa adaptasi dan replikasi Cagar Biosfer sebagai contoh pembangunan berkelanjutan (sustainable development model). Kemudian diikuti dengan prioritas memperkuat sharing informasi dan meningkatkan komunikasi antara negara-negara anggota, baik dalamjaringan regional maupun jaringan tematiknya. Kelima, menetapkan mekanisme sumber daya untuk pengembangan cagar biosfer. “Ini yang saya inginkan, yaitu menciptakan mekanisme mobilisasi sumber daya antara negara anggota maupun negara lain yang belum menjadi negara anggota MAB.” kata Prof. Dr. Enny Sudarmonowati. Lalu prioritas yang keenam adalah mempromosikan kebijakan yang didasari hasil penelitian (science-based policy) yang dilakukan di Cagar Biosfer.

“Tentu saja kita tidak bisa sekedar bicara, tapi Indonesia juga harus mampu memberi contoh. Sebagai Presiden ICC-MAB, inilah kesempatan Indonesia sebagai negara yang kaya akan biodiversitas untuk memimpin dunia dalam menentukan kebijakan yang terkait dengan keragaman hayati dan keragaman budaya.” ujar Prof. Dr. Enny Sudarmonowati saat ditanya mengenai harapan sebagai Presiden.

Prof. Dr. Arief Rachman, M. Pd selaku Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, turut menyampaikan harapannya agar Indonesia dapat memimpin dunia melalui program-program MAB yang mengintegrasikan antara semua sumber-sumber alam, konservasi dan ekosistem untuk kemaslahatan masyarakat, kemajuan sosial dan ekonomi. Melalui integrasi tersebut terjadi adanya suatu keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan lingkungannya. “Ini tidak bisa kita lakukan tanpa adanya suatu struktur, tanpa adanya suatu organisasi. Karena itu, MAB UNESCO harus meningkatkan efektivitas manajemen sistem.” ujarnya.

Dalam kesempatan Konferensi Pers yang dilaksanakan pada hari yang sama, Prof. Dr. Arief Rachman, M. Pd menambahkan bahwa pentingnya pendidikan sebagai faktor pendorong keberhasilan program Man and Biosphere ini. Pendidikan semestinya tidak hanya berbicara seputar kurikulum, tetapi juga bagaimana memberikan pemahaman yang baik kepada peserta didik mengenai keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.