Pentingnya Strategi Penanggulangan Bencana pada Situs Budaya

UNESCO Office Jakarta bekerjasama dengan UNESCO Office untuk Negara Pasifik menyelenggarakan lokakarya dengan tema “Experience Sharing on Disaster Risk Reduction (DRR) Strategy in Three Heritage Cities in Southeast Asia and the Pacific” yang dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 Juli 2018 di Gedung Oudetrap Kota Lama, Semarang. Lokakarya ini dilaksanakan sebagai bagian dari program“Capacity Building for Disaster Risk Reduction (DRR) of Heritage Cities in Southeast Asia (SEA) and Small Island Developing States (SIDS)” yang telah dijalankan sejak tahun 2016 dengan dukungan dari Malaysian Funds-in-Trust (MFIT). Program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk membangun kapasitas heritage cities dalam pembentukan strategi penanggulangan bencana dan memobilisasi stakeholders yang peduli pada pembangunan dan pelestarian heritage cities. Tiga kota yang menjadi pilot project dalam program ini antara lain: 1) Melaka dan George Town (Malaysia), 2) Kota Lama Semarang (Indonesia), dan 3) Kota Pelabuhan Levuka (Fiji).

Partisipan yang menghadiri lokakarya diharapkan dapat memberikan manfaat yang resiprokal dimana perwakilan kota – kota yang hadir akan berbagi pengalaman terkait proses dan tahapan yang dijalani dalam membentuk strategi penanggulangan bencana dan mendorong kota – kota lain untuk mulai mengimplementasikan inisiatif yang sama. Selain itu juga diharapkan partisipan dapat memperluas  dan memperkuat jaringan kerjasama dalam pelestarian heritage cities khususnya di wilayah Asia dan Pasifik.

Lokakarya dibuka secara resmi oleh Walikota Semarang, H. Hendrar Prihadi, SE. MM. dan didampingi oleh Wakil Walikota Semarang, Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu. Walikota Semarang menyampaikan apresiasinya terhadap UNESCO yang telah menginisiasi program ini dan membantu Semarang secara khusus dalam menyusun strategi penanggulangan bencana karena Kota Lama Semarang memang memiliki risiko bencana banjir. Harapannya, beliau mengungkapkan, Semarang dapat menjadi kota percontohan dalam pelestarian budaya. Selain itu turut hadir pula Mrs. Moe Chiba selaku Programme Specialist for Culture yang mewakili Direktur UNESCO Office Jakarta dan Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Malaysia, Dr. Nor Aisah binti Spahat.

Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diwakili oleh Dra. Hasnah Gasim, Koordinator Nasional ASPnet UNESCO yang menyampaikan terkait pentingnya strategi penanggulangan bencana untuk diimplementasikan di situs – situs kota budaya agar dapat meminimalisir dampak yang berpotensi merusak kehidupan. Dalam mengimplementasikan strategi DRR ini tentunya memerlukan perencanaan yang baik dan kebijakan yang mendukung. Oleh karena itu beliau menyampaikan untuk merujuk kepada Sendai Framework for DRR yang telah diadopsi oleh PBB pada tahun 2015 di Sendai, Jepang, yang secara spesifik menekankan pada empat prioritas utama yaitu: 1) Pemahaman akan risiko bencana; 2) Penguatan kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana; 3) Investasi pada penanggulangan risiko bencana untuk ketahanan, dan 4) Meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respon yang lebih efektif dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.