Delapan Kawasan Indonesia Dievaluasi untuk Dinaikkan Statusnya Menjadi Geopark Nasional

 

Jakarta, KNIU — Delapan kawasan di Indonesia dinilai dan dievaluasi dalam kegiatan dengan tajuk “Penilaian Kenaikan Status dan Evaluasi Geopark Nasional Tahun 2018” yang dilaksanakan pada Selasa (23/10/18) di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman ini bertujuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu kawasan lanskap yang memiliki warisan geologi yang berpotensi untuk dinaikkan statusnya menjadi geopark nasional.

 

Kedelapan kawasan calon geopark (aspiring geopark) yang dinilai dan dievaluasi adalah Aspiring Geopark Pongkor di Kabupaten Bogor, Aspiring Geopark Karangsambung-Karangbolong di Kabupaten Kebumen, Aspiring Geopark Meratus di Kalimatan Selatan, Aspiring Geopark Silokek di Kabupaten Sijunjung, Aspiring Geopark Sawahlunto, Aspiring Geopark Ngaraisianok-Maninjau di Kabupaten Bukit Tinggi, Aspiring Geopark Natuna di Kepulauan Riau, dan Aspiring Geopark Banyuwangi.

 

Kegiatan ini dibuka oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Manusia (SDM), IPTEK dan Budaya Maritim, Dr. Syafri Burhanudin, dan dihadiri oleh pimpinan dari masing-masing daerah aspiring geopark tersebut, yang kemudian melaporkan tingkat kesiapan daerahnya dalam membangun konsep geopark yang disesuaikan dengan standar geopark global. Hadir pula beberapa pakar terkait geopark yang didaulat menjadi Tim Penilai, seperti dari Komite Nasional Geopark Indonesia, Jaringan Geopark Indonesia, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta akademisi dari universitas.

 

Sebuah kawasan dapat dinaikkan statusnya menjadi geopark nasional apabila memiliki keunikan dan keragaman geologi, memiliki sistem geokonservasi yang baik, terdapat biodiversitas dan keragaman budaya dengan kearifan lokal, serta luas wilayah yang mencukupi. Selain itu kawasan tersebut juga harus memiliki struktur kepengurusan yang baik, menerapkan pendidikan lingkungan pada masyarakatnya, memiliki program geowisata, serta terdapat pembangunan ekonomi regional yang berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki kawasan tersebut. Pada kegiatan ini, kedelapan aspiring geopark dinilai berdasarkan semua variabel tersebut.

 

Profesor Arief Rachman sebagai Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO sekaligus sebagai salah satu Tim Penilai dalam sambutannya menyampaikan bahwa konsep geopark diadopsi oleh UNESCO karena dipandang sejalan dengan misi UNESCO.  Dengan adanya program geopark di tingkat nasional, diharapkan masyarakat dapat terdorong untuk menjaga dan melestarikan kekayaan geologi,  kekayaan alam, dan nilai-nilai universal di dalamnya, serta dapat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang pada akhirnya dapat berkonstribusi terhadap perwujudan perdamaian dunia.

 

Saat ini Indonesia memiliki 4 kawasan yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, yaitu Geopark Batur, Geopark Gubung Sewu, Geopark Rinjani dan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Selain itu terdapat pula 7 kawasan Geopark Nasional, serta lebih dari 80 kawasan yang berpotensi menjadi geopark. Program geopark telah ditetapkan sebagai program prioritas nasional dan merupakan jalan baru pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai contoh, sebelum Gunung Sewu ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark, daerah Kabupaten Gunung Kidul merupakan daerah miskin. Namun setelah penetapan, pembangunan di daerah ini bergeliat, investasi tumbuh, sektor ekonomi kreatif berkembang, sehingga kesejahteraan masyarakat ikut terangkat.

 

 

 

Ikuti akun media sosial kami:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply