Dorong Perempuan Peneliti, Penerima Penghargaan L’Oreal-UNESCO for Women in Science Bagikan Kiat Sukses di Ajang Internasional

L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS)

 

Surabaya, KNIU — Penerima penghargaan nasional (national laureate) dan fellowship internasional (international fellow) program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) tahun 2013 asal Indonesia, Sri Fatmawati, bagikan kiat sukses tembus ajang penghargaan internasional bagi para Perempuan Peneliti. Disampaikan pada acara Sosialisasi Program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) 2019 di Gedung Pusat Riset Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, pada Senin (29/04/2019), terdapat tujuh tips kunci yang diberikan perempuan yang kerap disapa Fatma ini.

 

©LPPM ITS/Rama

Dalam sesinya, Fatma menyatakan bahwa di balik penghargaan yang diraih, terdapat sebuah amanah yang pula wajib dituntaskan. “Berhasil meraih sebuah penghargaan, selain sebuah kebanggaan, juga merupakan amanah. Kita dikaruniai kelebihan berupa kecerdasan intelektual yang kemudian menjadi wajib bagi kita untuk meneruskan dan membagi ilmu yang kita miliki agar dapat menginspirasi generasi penerus.” ujar Fatma yang menerima fellowship internasional program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) untuk penelitian yang berfokus pada analisa potensi medis dari zat alami yang berasal dari tumbuhan dan jamur.

 

Berikut adalah ketujuh tips yang dibagikan Fatma dalam menyusun proposal yang mampu menembus ajang penghargaan hingga ke kancah internasional.

  • Baca panduan dengan saksama

Menurut Fatma, hal yang biasa ia lakukan adalah dengan menyimpan panduan di tempat-tempat yang selalu terlihat, seperti di desktop komputer miliknya. Dengan membaca panduan berulang kali, maka dapat terhindar dari kesalahan teknis yang dapat menggagalkan proposal untuk menembus proses penjurian. “Sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai peneliti, untuk menjadi orang yang teliti. Kesalahan teknis merupakan kesalahan yang sederhana, namun berdampak sangat besar.” ujar Fatma.

  • Pilih topik yang sesuai dengan rekam jejak penelitian

Fatma menyatakan bahwa kesesuaian topik proyek yang dikerjakan dengan rekam jejak peneliti sangatlah disarankan, dalam kaitannya dengan keahlian (experties) yang dikuasai. “Penelitian yang dikerjakan saat ini tidak harus sama persis dengan yang telah dikerjakan sebelumnya, namun sebaiknya memiliki kesamaan jalur (in line), dan dikembangkan dengan lebih menarik dan memiliki keterkaitan dengan isu terkini.” saran Fatma.

  • Gunakan kata kunci yang lebih umum

Penggunaan kata kunci yang umum, menurut Fatma, membantu dewan juri untuk lebih mudah memahami proyek penelitian yang sedang dikerjakan. Hal ini dikarenakan tidak semua dewan juri berasal dari disiplin ilmu yang sama dengan peneliti penyampai proposal.

  • Topik (penelitian) memberikan dampak yang luas

Dalam menyusun sebuah kerangka penelitian, Fatma menyarankan untuk menggunakan metode khusus-umum, artinya diawali dengan membuat pernyataan langsung dan jelas terkait dengan apa yang akan dihasilkan dari penelitian yang dilakukan.

  • Nyatakan solusi dengan jelas

Solusi yang ditawarkan melalui penelitian yang dilakukan sebaiknya tidak mengawang-ngawang, namun lebih praktikal.

  • Buat gambar/bagan bagaimana Anda akan mencapai tujuan

Menyampaikan penelitian yang sedang dikerjakan dalam bentuk visual dapat membantu orang lain untuk lebih mudah memahami akan penelitian tersebut. Melalui gambar/bagan, penelitian dapat terangkum secara keseluruhan dari awal hingga akhir. “Membuat gambar/bagan dari penelitian yang kita kerjakan seperti membuat roadmap untuk membantu orang lain –dalam hal ini juri, untuk memahami dan mengetahui arah tujuan penelitian kita.” jelas Fatma.

  • Periksa ulang proposal Anda

Fatma membagikan tip yang biasa ia lakukan pada proposal yang disusunnya, yaitu dengan membiarkan orang-orang di sekitarnya membaca proposalnya (proofreading). Dengan membiarkan orang yang ia percaya untuk membaca proposalnya, Fatma dapat memperoleh kritik dan saran yang membangun, sehingga perbaikan bisa dilakukan untuk membuat proposal menjadi lebih sempurna.

 

Menutup sesinya, perempuan penggemar warna ungu ini menyatakan bahwa yang dibutuhkan seorang Perempuan Peneliti muda adalah sosok panutan (role model) yang mampu memotivasi dalam memajukan sains Indonesia. Maka dari itu, dengan berbagi pengalamannya dalam program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS), Fatma berharap dapat mendorong dan meyakinkan para Perempuan Peneliti Indonesia untuk tidak pesimis dan dapat memanfaatkan ajang ini sebagai sarana pengembangan diri. “Jangan sampai penelitian hanya berhenti sampai publikasi saja, namun juga harus sampai ke tahap kebermanfaatan bagi orang lain,” pungkas Fatma.

 

©LPPM ITS/Rama

Program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) merupakan bentuk kerja sama yang terjalin antara UNESCO dengan PT. L’Oreal untuk memajukan serta mengapresiasi peran serta aktif kaum perempuan di bidang sains. Di Indonesia, implementasi program L’Oreal-UNESCO FWIS dijalankan oleh PT. L’Oreal Indonesia bekerja sama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU Kemendikbud) yang berlangsung sejak tahun 2004. Hingga saat ini, setiap tahunnya program L’Oreal-UNESCO FWIS memberikan penghargaan kepada empat Perempuan Peneliti muda Indonesia.

 

©KNIU Kemendikbud/Ramanda

Sosialisasi Program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) 2019 digelar secara bertahap sejak bulan April hingga Mei di beberapa kota di Indonesia, yaitu Makassar (26/04/2019), Surabaya (29/04/2019), Yogyakarta (29/04/2019), dan Tangerang (03/05/2019). Rangkaian sosialisasi terakhir akan dilaksanakan pada Rabu (22/05/2019) dengan bertempat di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Terkait kategori penyeleksian, Mohamad Fikri selaku Senior Manajer Komunikasi dan Keberlanjutan PT. L’Oreal Indonesia menjelaskan bahwa terdapat kategori tambahan pada periode tahun 2019 ini.

 

©KNIU Kemendikbud/Andajani

“Yang berbeda di tahun 2019 ini, terdapat kategori tambahan untuk memperluas cangkupan penelitian, sehingga secara keseluruhan meliputi bidang Sains Bumi (Earth Science), Kimia (Chemistry), Sains Material (Material Science), Fisika (Physics), Life Science, Teknik (Engineering), dan Sains Komputer (Computer Science).” ucap Fikri. (DAS)

L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS)

 

 

Ikuti akun media sosial kami:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply