Mengenang Konferensi Asia Afrika Lewat Asia Africa Festival

Konferensi Asia Afrika

 

Bandung, KNIU — Sabtu di akhir bulan Juni, matahari telah bersemangat terbit namun udara masih sejuk terasa. Di suasana pagi yang cerah khas Kota Kembang, Bandung, ribuan masyarakat berbondong menuju jantung kota, tepatnya ke Jalan Asia Afrika. Di ruas jalan yang dahulu bernama Groote Postweg atau Jalan Raya Pos itulah perhelatan Asia Africa Festival (AAF) 2019 digelar.

Asia Africa Festival (AAF) merupakan acara yang rutin terlaksana di Kota Bandung untuk memperingati peristiwa bersejarah, Konferensi Asia Afrika yang berlangsung selama 7 hari pada tanggal 18 hingga 24 April 1955. Konferensi Asia Afrika (KAA) terlaksana atas inisiasi pemerintah Indonesia sebagai tindak lanjut dari Konferensi Kolombo yang lebih dulu berlangsung di Sri Lanka pada tanggal 28 April hingga 2 Mei 1954. Dengan melibatkan 29 negara di wilayah benua Asia dan Afrika, Konferensi Asia Afrika digelar dengan mengusung tema pembahasan yang saat itu masih merupakan masalah krusial internasional, yaitu penjajahan dan dampak Perang Dunia II bagi dunia, khususnya negara-negara di wilayah Asia dan Afrika. Konferensi ini bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dunia dan kerja sama internasional, serta hak untuk merdeka dari tekanan kolonialisme dan imperialisme.

©ANRI

Dengan hasil berupa Dasasila Bandung yang menandai komitmen bersama negara-negara Asia Afrika untuk menghormati hak asasi manusia dan kedaulatan masing-masing negara serta meningkatkan jalinan kerja sama antarnegara, Konferensi Asia Afrika (KAA) telah mendatangkan banyak manfaat bagi Indonesia. Citra Indonesia yang kala itu belum genap berusia 10 tahun terdongkrak di mata dunia seiring berhasilnya perhelatan konferensi internasional pertama yang mengumpulkan negara-negara Asia-Afrika tersebut.

Selain bagi Indonesia, Konferensi Asia Afrika (KAA) juga berdampak baik bagi negara-negara seantero Asia-Afrika. Konferensi Asia Afrika membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka. Konferensi Asia Afrika juga telah berhasil menumbuhkan semangat solidaritas di antara Negara-negara Asia Afrika, baik dalam menghadapi masalah internasional maupun regional. Semangat Dasasila Bandung sebagai hasil dari KAA telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional, dan menginspirasi terlaksananya konferensi-konferensi lain yang hasilnya mengarah pada pembentukan Gerakan Non-Blok.

 

Terdaftar sebagai Ingatan Kolektif Dunia/Memory of the World UNESCO

Sebagai momentum historis yang memiliki dampak signifikan, baik untuk Indonesia maupun dunia, Konferensi Asia Afrika (KAA) menghasilkan arsip dan bukti dokumentasi yang tak kalah berharga. Untuk menjaga keberadaan dan kelestariannya, Pemerintah RI mendaftarkan Arsip Konferensi Asia Afrika (Asian-African Conference Archives) sebagai Ingatan Kolektif Dunia atau Memory of the World UNESCO pada tahun 2014 dan telah berhasil diinskripsi oleh UNESCO di tahun 2015.

Memory of the World (MoW) merupakan salah satu program UNESCO di bawah pilar bidang komunikasi dan informasi. Didirikan pada tahun 1992, program MoW bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melindungi dan menjaga kelestarian warisan-warisan dokumenter peristiwa penting yang berdampak bagi dunia. Melalui program ini, UNESCO memfasilitasi usaha preservasi dan mengasistensi akses ke warisan dokumentasi dunia.

 

Gelaran Asia Africa Festival (AAF) 2019

©KNIU Kemendikbud/Donna

Dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 29 dan 30 Juni 2019, Asia Africa Festival (AAF) 2019 menutup bulan Juni dengan mengesankan. Asia Africa Festival 2019 digelar oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai bentuk peringatan dari Konferensi Asia Afrika ke-64. Dengan mengusung tema “Culture for The World”, Asia Africa Festival 2019 dimeriahkan oleh partisipasi dari 19 perwakilan negara sahabat di wilayah benua Asia dan Afrika dan 15 perwakilan Kota/Kabupaten di Indonesia.

Asia Africa Festival 2019 diawali dengan kegiatan jalan santai dengan rute Pendopo Kota Bandung menuju Palestine Walk dan berakhir di Museum Konferensi Asia Afrika sebagai bentuk dukungan untuk mendorong kemerdekaan Palestina bertajuk “Palestine Solidarity Walk”, pada Sabtu (29/06/2019) pukul 08.30 WIB. Pihak yang hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut adalah para Duta Besar negara-negara Asia Afrika, termasuk jajaran pejabat daerah Kota/Kabupaten di Indonesia. Negara yang turut antara lain Jepang, Maroko, Zimbabwe, Myanmar, dan Palestina.

©KNIU Kemendikbud/Donna

Setelah jalan solidaritas, puncak acara Asia Africa Festival 2019 berupa karnaval seni dan budaya pun dimulai. Karnaval yang melibatkan 1.147 peserta dari 35 grup yang didatangkan dari seluruh penjuru nusantara serta negara-negara sahabat ini merupakan daya tarik utama yang menyedot atensi para pengunjung. Beragam penampilan menarik dihadirkan dalam karnaval tersebut. Beberapa di antaranya seperti parade Kavaleri Berkuda, drum band, Arak-Arakan Mikoshi asal Jepang, Bebegig Sukamantri dari Kabupaten Ciamis, Helaran Angklung Buncis asal Kota Cimahi, Seni Badawang asal Kabupaten Bandung Barat, hingga Barongan dari Kota Blitar.

Riuh tepuk tangan dan antusiasme yang demikian tinggi nampak dari jajaran penonton yang membanjiri tepi jalan sepanjang rute karnaval, yaitu sepanjang Jalan Asia Afrika, Bandung. Selain pengunjung yang datang baik dari dalam maupun luar negeri, turut hadir pula jajaran pemerintah yaitu Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil; Wali Kota Bandung, Oded M. Danial; Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana; Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti; dan Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna.

Tidak hanya karnaval, Asia Africa Festival 2019 juga menghadirkan gelaran konser musik dan bazar kuliner yang dinikmati oleh pengunjung. Bernostalgia bersama “Bandung Legend” yang merupakan sebuah grup kolaborasi musik dari Teddy Rif, Mplay Utopia, dan Yukie Pass Band dan menikmati sajian kuliner di Asia Africa Geographic & Food Market yang berlangsung hingga tanggal 30 Juni di Cikapundung River Spot, merupakan fasilitas yang disediakan Pemerintah Kota Bandung melalui gelaran Asia Africa Festival 2019.

Sebelum Asia Africa Festival 2019 diselenggarakan, Pemerintah Kota Bandung mengadakan serangkaian acara persiapan menuju Asia Africa Festival 2019 yaitu Asia Africa Expo dan Asia Africa Fair. Berlangsung pada tanggal 14 hingga 16 Juni dan 21 hingga 23 Juni 2019, Asia Africa Expo hadir di beberapa pusat perbelanjaan di Kota Bandung seperti Miko Mall, Festival Citylink, Bandung Indah Plaza, Transmart Cipadung, Paskal Food Market, dan Cihampelas Walk.

 

Membawa Dampak Baik
Seperti halnya Konferensi Asia Afrika di tahun 1955, Asia Africa Festival (AAF) juga mendatangkan banyak manfaat baik bagi Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung. Dari segi pariwisata dan ekonomi, selama dua hari penyeleggaraannya, perhelatan Asia Africa Festival 2019 mampu menarik 139.750 pengunjung yang terdiri dari wisatawan lokal maupun asing. Perputaran uang saat perhelatan berlangsung diperkirakan mencapai 42,7 milyar dengan rata-rata pengeluaran pengunjung Rp 306.224/orang. Bahkan tingkat okupansi hotel yang berada pada radius 1 kilometer dari lokasi berlangsungnya festival mencapai 100 persen. Sementara beberapa hotel terdekat di luar radius 1 kilometer tingkat huniannya mencapai 80 persen.(DAS)

Konferensi Asia Afrika

 

Ikuti akun media sosial kami:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply