The 6th Asia Pacific Geoparks Network (APGN) Symposium 2019 Resmi Dibuka

APGN 2019

 

Mataram, KNIU — Simposium Jejaring Geopark Asia Pasifik ke-6 (The 6th Asia Pacific Geoparks Network/APGN Symposium) resmi dibuka pada Selasa (03/09/19) bertempat di Lombok Raya Hotel, Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pembukaan disimbolkan dengan tabuhan alat musik tradisional Lombok, Gendang Beleq (arti: Gendang Besar), oleh Gubernur NTB, Zulkieflimansyah; Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU Kemendikbud), Arief Rachman; Deputi Bidang Koordinasi SDM, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim), Safri Burhanuddin; Koordinator APGN, He Qingcheng; dan Spesialis Program Senior Kantor UNESCO Jakarta, Hans D. Thulstrup.

Acara ini untuk membuka sesi Simposium yang terlaksana pada tanggal 3 hingga 6 September 2019. Sebelumnya, telah berlangsung pertemuan dewan UNESCO Global Geopark (UGG Council Meeting) pada tanggal 31 Agustus hingga 2 September di pulau Gili Trawangan, Kepulauan Gili, NTB. UGG council meeting merupakan pertemuan yang dilaksanakan setiap tahun untuk menentukan rekomendasi terkait penetapan Global Geopark berikutnya. Pada pertemuan kali ini, termasuk di dalamnya dibahas mengenai Geopark Kaldera Toba dan Geopark Belitong.

The 6th APGN Symposium 2019 mengangkat tema “UNESCO Global Geoparks Toward Sustaining Local Communities and Reducing Geohazard Risk”. Tema ini dipilih untuk menyampaikan pesan pentingnya pelestarian alam termasuk komunitas lokalnya, serta pengurangan risiko atas bencana. Simposium dilaksanakan dalam dua bentuk yaitu Presentasi Oral dan Poster. Dilaporkan oleh pihak penyelenggara The 6th APGN Symposium 2019, abstrak yang masuk ke per akhir Agustus ada sebanyak lebih dari 200 buah dan yang ditampilkan sejumlah 215 buah yang terdiri dari 152 orang presentasi oral dan 63 presentasi poster. Simposium sendiri diikuti oleh sekitar 500 peserta dari 22 negara, beserta sejumlah pengamat (observer) asal dalam dan luar negeri.

Dalam sambutannya di acara pembukaan, Ketua Harian KNIU Kemendikbud, Arief Rachman, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras panitia penyelenggara dan seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya The 6th APGN Symposium 2019. Terkait dengan tema acara, Arief Rachman juga menyampaikan bahwa pembahasan mengenai pengalaman gempa bumi dahsyat yang melanda Lombok pada Agustus 2018 lalu di simposium ini diharapkan dapat menghasilkan masukan bagi penyusunan Sistem Peringatan Dini Bencana dan Pembangunan Kebijakan.

“Pengalaman gempa Lombok tahun lalu dan diskusi tentang tema Pengurangan Risiko Geohazard semoga dapat memberikan wawasan yang lebih jelas tentang bagaimana kita memahami risiko bencana, memperkuat tata kelola risiko untuk mitigasi bencana, serta meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respons yang efektif, dan untuk proses yang lebih baik dalam pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi pasca bencana. Pada akhirnya, ini dapat memberikan masukan untuk Sistem Peringatan Dini dan Pembangunan Kebijakan.” ujar Arief Rachman yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Selain council meeting dan simposium, The 6th APGN Symposium 2019  yang diikuti oleh total lebih dari 600 peserta yang berasal dari 30 negara ini juga terdiri dari Geo Fair dan UMKM Expo. Geo Fair ditujukan untuk menunjukkan potensi geopark dari negara peserta simposium, adapun UMKM Expo merupakan sarana untuk memamerkan produk-produk unggulan produksi komunitas lokal. Menurut pihak penyelenggara, terdapat sekitar 40 pihak terdaftar untuk Geo Fair yang berasal dari dalam dan luar negeri. Adapun untuk UMKM Expo penyelenggara menyediakan 45 stan, dengan rincian 35 stan untuk publik dan 10 sisanya dikhususkan untuk kabupaten/kota di Provinsi NTB.

Tak hanya mengikuti jalannya agenda simposium, di hari ke-2 pelaksanaan simposium peserta The 6th APGN Symposium 2019 juga diajak untuk mengunjungi beberapa objek situs geologi di berbagai penjuru Lombok melalui agenda bertajuk Mid-Simposium Excursion (Field Trip). Kunjungan lapangan ini dilaksanakan ke tiga jalur destinasi yaitu Jalur Utara (Desa Adat Gumantar dan Senaru), Jalur Tengah (Museum, Kemalik Lingsar dan Aik Berik), dan Jalur Timur (Sembalun). Kunjungan ini, menurut pihak penyelenggara, diharapkan bisa mendapat dukungan keterlibatan aktif dari masyarakat, terutama yang berada di sekitar tiga titik destinasi yang dituju peserta The 6th APGN Symposium 2019.

“Kami berharap masyarakat secara bersama-sama turut menjaga keamanan dan kebersihan di lingkungan masing-masing untuk memberikan kesan baik, nyaman, dan aman kepada seluruh tamu yang akan hadir dalam kegiatan tersebut.” pungkas pihak penyelenggara.(DAS)

APGN 2019

 

Ikuti akun media sosial kami:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply