Masa Depan Guru dan Guru Masa Depan: Peringatan Hari Guru Sedunia 2019

Hari Guru Sedunia 2019

Jakarta, KNIU — Di tengah maraknya kehadiran jenis-jenis profesi baru di era digital yang semakin berkembang, keberlanjutan masa depan profesi-profesi lama menjadi perhatian khusus, tak terkecuali profesi guru. Didasari perhatian tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) menyelenggarakan lokakarya nasional dalam rangka Hari Guru Sedunia 2019 pada Kamis (10/10/2019) di Graha Utama, Kantor Kemendikbud, Jakarta.

Dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, acara peringatan Hari Guru Sedunia 2019 mengangkat tema “Guru Milenial: Sebuah Profesi di Masa Depan”. Tema tersebut selaras dengan tema internasional dari World Teachers’ Day yang diusung pada tahun ini, yaitu “Young Teachers: the Future of the Profession”. Hal ini diungkapkan oleh Gunawan Zakki, Spesialis Program Pendidikan Kantor UNESCO Jakarta, pada sambutannya di acara ini.

“Tema Young Teachers: the Future of the Profession ini menunjukkan bahwa tenaga-tenaga muda di dunia pendidikan amatlah penting bagi masa depan profesi guru.” ujar Zakki.

Implementasi tema dalam acara ini dibagi ke dalam dua diskusi panel. Mengusung subtema “Guru Masa Depan dan Masa Depan Guru”, diskusi panel pertama menghadirkan tiga pembicara dari universitas dan tenaga ahli spesialis pembangunan kapasitas guru yang pernah bekerja di UNESCO. Melalui paparannya, Syawal Gultom dari Universitas Negeri Medan menyampaikan bahwa untuk siap menghadapi tantangan dunia pendidikan di masa yang akan datang, guru harus memiliki penguasaan materi (content knowledge), mampu menyampaikan materi dengan baik (pedagogical knowledge), dan memiliki pemahaman dan kemampuan teknologi (technological knowledge). Adapun terkait tantangan di dunia pendidikan sebagai dampak dari Revolusi Industri 4.0, Syawal mengungkapkan bahwa pekerjaan guru tidak dapat digantikan oleh robot.

“Robot dapat mendukung dan meningkatkan proses pembelajaran, tapi robot tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru.” kata Syawal.

Senada dengan Syawal, narasumber dari Universitas Negeri Yogyakarta, Suyanto, juga mengatakan bahwa robot sangat baik untuk mengerjakan pekerjaan repetisi, tapi tidak dengan pekerjaan konseptual dan inovatif.

“Jadi ajarkan peserta didik cara mengonsep, menciptakan model, dan hal-hal terkait invensi lain yang tidak dapat dikerjakan oleh robot.” kata Suyanto.

Hal ini didukung pula oleh Ketua Harian KNIU Kemendikbud, Arief Rachman, yang melontarkan pernyataan serupa.

“Proses pembelajaran dan pengajaran merupakan interaksi sosial, hal tersebut tidak dapat digantikan oleh teknologi (robot).” ujarnya.

©KNIU Kemendikbud/Desi

Dalam sambutannya, Arief Rachman juga mengatakan bahwa abad ke-21 bukanlah era yang mudah untuk menjadi guru dan tenaga kependidikan. Berbagai tantangan pada profesi ini timbul seiring pergeseran perilaku dan nilai yang diusung di masyarakat dewasa ini.

“Tantangan pertama adalah menurunnya persepsi dan penghormatan publik terhadap profesi guru. Jika dahulu guru adalah tenaga profesional yang sangat dihormati, dihargai, dipercaya, dan diterima sebagai panutan inspirasional bagi kaum muda, saat ini guru dapat dengan mudah dijadikan kambing hitam atas kegagalan sistem pendidikan.” ujar Arief.

Tantangan di abad ke-21 yang berdampak pula pada profesi guru ini kemudian didiskusikan pada sesi panel kedua. Menghadirkan lima narasumber yang merupakan guru berprestasi di tiap tingkatan pendidikan, diskusi panel ini ditujukan untuk membagikan praktik baik terkait kiat menghadapi tantangan dalam pekerjaan pengajar di masa depan.

“Seorang guru yang baik harus dapat menjadi inspirasi bagi rekan seprofesi, lingkungan sekolah, juga untuk masyarakat sekitar, “ kata Ratna Budiarti, Kepala Sekolah SMAN 70 Bulungan, Jakarta, selaku salah satu narasumber pada diskusi panel kedua.

Guru sebagai Pekerjaan Profesional

Membangun guru profesional di Indonesia masih merupakan perjalanan yang panjang. Hal ini disampaikan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya di acara peringatan Hari Guru Sedunia 2019.

“Perjalanan membangun guru profesional di Indonesia itu masih panjang. Padahal masa depan Indonesia itu dipegang oleh guru, karena guru berperan sangat besar pada pembangunan kualitas SDM (sumber daya manusia).” ujar Mendikbud Muhadjir.

Dalam sambutannya, Mendikbud Muhadjir menjelaskan bahwa pekerjaan profesional dapat didefinisikan sebagai pekerjaan yang menuntut keahlian tertentu sebagai hasil dari pendidikan dan pelatihan mendalam yang ditempuh dalam waktu lama dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

“… sehingga hanya orang yang mengalami pendidikan dan pelatihan itulah yang dapat melakukannya. Itulah pekerjaan profesional.” kata Mendikbud Muhadjir.

Mendikbud Muhadjir menambahkan bahwa yang membedakan pekerjaan profesional dengan pekerjaan lain, selain berdasarkan definisinya, adalah adanya panggilan dari hati serta tanggung jawab sosial (social responsibility). Tidak terkecuali pekerjaan guru yang juga memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap publik.

“Apa yang dilakukan guru itu berdampak pada publik. Misalnya, guru mengajari anak salah, maka yang menderita nanti bukan anak yang salah itu, tetapi semua orang yang memiliki relasi dengan anak itu, termasuk keturunannya yang akan datang,” jelasnya.

Ciri berikutnya dari pekerjaan profesional, menurut Mendikbud Muhadjir adalah adanya rasa kebanggaan bersama (esprit de corps) atau kolegialitas. Ini menimbulkan penting adanya organisasi profesi agar hubungan antara pelaku profesi selalu terjaga. Menurut Muhadjir, guru juga memerlukan organisasi profesi untuk mengasah kompetensinya.

Lebih lanjut, Mendikbud Muhadjir juga mengatakan betapa pentingnya untuk membangun martabat diri (self dignity) dari profesi guru. Menurutnya, apabila seorang guru memiliki self dignity yang baik, dengan sendirinya akan menuai rasa hormat dari masyarakat, dan timbul rasa eksklusivitas (sense of exclusivity).

“Guru ini harus dibangkitkan yang namanya self dignity. Tanpa self dignity, guru tidak mungkin mencapai performa pekerjaan yang betul-betul hebat,” katanya.(DAS)

Hari Guru Sedunia 2019

 

Ikuti akun media sosial kami:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply