KNIU Kemendikbud Gelar Lokakarya ASPNet tentang Kesadaran Lingkungan

Bogor, KNIU — Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU Kemendikbud) gelar lokakarya UNESCO Associated Schools Project Network (ASPNet) selama empat hari pada tanggal 27 Februari hingga 1 Maret 2020, di Bogor, Jawa Barat. Lokakarya ini diikuti oleh kepala sekolah dan perwakilan guru dari sekolah tingkat dasar. Sesuai dengan tema yang diusung, yaitu “Membangun Kesadaran Lingkungan di Sekolah melalui Konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD)”, lokakarya menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan paparan demi membekali peserta dengan pemahaman terkait konsep ASPNet dan ESD serta manfaatnya pada isu lingkungan.

Hadir sebagai narasumber, Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud, Ade Erlangga, menyatakan bahwa penerapan konsep ESD sejalan dengan semangat program utama Kemendikbud, Merdeka Belajar. “Kata kunci untuk mencapai suatu keberlanjutan (sustainability) adalah adaptif. Jika seseorang tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan, ia akan tergeser, akan tergerus. Program Merdeka Belajar merupakan salah satu perubahan di Kemendikbud sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan dan tantangan global,” ujarnya.

©KNIU Kemendikbud/Danu

Mendukung pernyataan Ade Erlangga, Atase Pendidikan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Yusuke Takahashi, menyampaikan bahwa ESD mengembangkan kemampuan peserta didik untuk bertindak dan membawa perubahan (transformasi) nilai dan perilaku yang membentuk suatu masyarakat yang berkelanjutan (sustainable society). Menurutnya, ESD merupakan sistem edukasi yang mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melihat isu-isu global yang berdampak pada masyarakat di mana mereka berada, sehingga kemudian dapat turut memikirkan dan menerapkan solusi atas permasalahan tersebut. “ESD menekankan pada bagaimana membangun kesadaran bagi para peserta didik dan masyarakat bahwa permasalahan global juga merupakan permasalahan keseluruhan umat manusia, sehingga keterlibatan setiap individu sangat penting dalam proses penyelesaiannya,” ujar Takahashi yang menyampaikan paparannya dalam bahasa Inggris.

Sejalan dengan yang disampaikan Atase Takahashi, UNESCO dalam laman resminya mendefinisikan ESD sebagai pendidikan yang mendorong peserta didik untuk mengambil keputusan yang tepat dan tindakan yang bertanggung jawab demi tercapainya integritas lingkungan, kelayakan ekonomi, dan masyarakat yang adil, sekaligus menghormati keanekaragaman budaya. ESD adalah pendidikan holistik dan transformasional yang membahas konten dan hasil pembelajaran, pedagogi, serta lingkungan belajar. ESD bertujuan untuk mengubah pola pikir dan gaya hidup untuk kesejahteraan generasi saat ini dan masa depan.

Selain ketiga narasumber tersebut, turut hadir beberapa narasumber lain yaitu Ketua Harian KNIU Kemendikbud, Arief Rachman; Koordinator Nasional program ESD di Indonesia, Ananto Kusuma Seta; Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre of Ecohydrology (APCE), Ignasius D. A Sutapa; dan Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Nana Yudiana. Lokakarya juga menghadirkan beberapa pemapar yang berbagi praktik baik penerapan ESD di sekolah asalnya, yaitu dari Sekolah Dasar Negeri 12 Bendungan Hilir, Sekolah Dasar Labschool Cibubur, dan Sekolah Dasar Alam Cendekia Bogor.

Koordinator Nasional program ASPNet di Indonesia, Hasnah Gasim, menyampaikan bahwa hasil (output) yang diharapkan dari lokakarya ini adalah terbentuknya rencana aksi implementasi dari program ESD UNESCO sebagai jawaban dari permasalahan lingkungan di sekolah. Untuk mencapai hasil tersebut, dihadirkan sejumlah fasilitator untuk mendampingi para peserta lokakarya dalam menyusun suatu rencana aksi yang disesuaikan dengan permasalahan di tiap-tiap sekolah. Terkait dengan hal ini, Sri Famili sebagai salah satu peserta lokakarya menyampaikan bahwa cara mengidentifikasi masalah dan menentukan skala prioritas dalam menyusun rencana aksi merupakan ilmu baru baginya dan sangat bermanfaat bagi penerapan ESD di sekolahnya di kemudian hari. Sri juga menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan acara, bahwa lokakarya ini membawa banyak manfaat terkait pemahaman akan substansi serta sebagai sarana menjalin jejaring. “Acara ini sangat bermanfaat karena kami mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru. Ditambah juga bertemu dengan sekolah-sekolah lain yang telah melakukan berbagai praktik baik yang bisa dijadikan inspirasi,”ujar Sri.(DAS)

Education for Sustainable Development

 

Ikuti akun media sosial KNIU Kemendikbud:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply