Sosialisasi Program L’Oreal-UNESCO for Women in Science 2020 Manfaatkan Fasilitas Konferensi Video

L’Oreal-UNESCO for Women in Science

Jakarta, KNIU — Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU Kemendikbud) dan PT. L’Oreal Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek-BRIN) menggelar konferensi video pada Selasa (10/03/2020) di Kantor Kemendikbud, Jakarta. Konferensi video ini diselenggarakan dalam rangka sosialisasi sekaligus rapat pembuka (kick off meeting) dari program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) 2020.

Konferensi video yang berlangsung selama 90 menit ini dilakukan dengan 10 universitas di Indonesia. Kesepuluh universitas tersebut adalah Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Lampung (Unila), Universitas Jember (Unej), Universitas Jambi (Unja), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Sriwijaya (Unsri), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dan Universitas Udayana (Unud). Hadir sebagai narasumber, Ketua Harian KNIU Kemendikbud. Arief Rachman; Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek-BRIN, Ocky Karna Radjasa; Perwakilan Dewan Juri Program L’Oreal-UNESCO FWIS, Endang Sukara dan Herawati Sudoyo; serta Penerima Penghargaan L’Oreal-UNESCO FWIS 2019, Osi Arutanti.

Membuka kegiatan konferensi video, Direktur Ocky menyampaikan bahwa program L’Oreal-UNESCO FWIS sejalan dengan program pemerintah dalam hal memfasilitasi riset-riset yang dilakukan di Indonesia maupun lembaga yang menaunginya. “Kami di Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat juga sudah menyelenggarakan pendanaan riset berperspektif GESI (Gender Equality and Social Inclusion), jadi sebetulnya dalam konteks ini kebijakan yang dilakukan pemerintah maupun pihak swasta bersama-sama diharapkan dapat semakin mendorong pertumbuhan riset nasional yang baik,” ujar Ocky.

Bicara data, Direktur Ocky menyatakan bahwa adanya kenaikan jumlah perempuan peneliti yang telah menerima pendanaan yang dikucurkan oleh Pemerintah Indonesia khususnya Kemenristek-BRIN. Menurut Ocky, pertumbuhan ini dapat menjadi cerminan bahwa semakin banyak perempuan yang berkontribusi di bidang sains. “Dalam dua tahun terakhir, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat memberikan pendanaan riset dan pengabdian masyarakat kepada perempuan Indonesia, khususnya para peneliti di perguruan tinggi, itu sudah sebanyak 49 persen dari total komunitas perempuan peneliti yang ada. Angka ini naik dua persen dari jumlah dua tahun yang lalu,” jabar Ocky.

Sejalan dengan yang disampaikan Direktur Ocky, Melanie Masriel selaku Direktur Komunikasi, Hubungan Masyarakat, dan Keberlanjutan (Communications, Public Affairs, and Sustainability Director) PT. L’Oreal Indonesia, menyatakan bahwa program L’Oreal-UNESCO FWIS merupakan program yang bertujuan untuk mendorong tumbuhnya jumlah perempuan di bidang sains. “Sejauh ini, dari sisi gender, jumlah peneliti yang ada di dunia masih didominasi oleh laki-laki. Perbandingannya 70:30. Oleh karena itu, kita (L’Oreal) secara konsisten bersama-sama dengan UNESCO dan KNIU di Indonesia untuk menjalankan program ini untuk mendorong lebih banyak lagi perempuan peneliti untuk berkarier dan turut memajukan bangsa Indonesia melalui penelitiannya,” tutur Melanie.

Terkait dengan perannya sebagai bagian dari Dewan Juri program L’Oreal-UNESCO FWIS Indonesia, dua profesor kawakan di bidangnya masing-masing, Endang Sukara dan Herawati Sudoyo, hadir untuk berbagi saran mengenai cara menyusun proposal penelitian yang baik bagi para calon kandidat dari instansi perguruan tinggi yang bergabung dalam konferensi video. Menurut Endang, proyek penelitian yang berpotensi mendapat nilai penjurian yang tinggi adalah penelitian yang mampu menjadi solusi saintifik atas suatu permasalahan serta dapat membawa manfaat untuk kehidupan orang banyak. Adapun menurut Hera, penting untuk menjaga keaslian ide penelitian, serta menjabarkannya secara tajam dengan target implementasi yang jelas. Lebih lanjut, Hera juga menyampaikan bahwa para calon kandidat didorong pula untuk memasukkan muatan lokal di dalam penelitian mereka.

Sebagai contoh praktik baik, Osi Arutanti yang merupakan penerima penghargaan L’Oréal-UNESCO FWIS National Fellowships 2019 turut berbagi pengalamannya di tahun lalu. Osi menyatakan bahwa proposal penelitiannya mengenai eksplorasi alternatif fotokotalis sebagai solusi permasalahan lingkungan di Indonesia. Disampaikan oleh Osi, dalam konteks ini ia berangkat dari permasalahan yang ada di Indonesia, yaitu permasalahan lingkungan, dan mencari solusinya dari potensi yang dimiliki Indonesia, yaitu tenaga surya. Ide besar itu kemudian oleh Osi dikemas dalam sebuah narasi yang berlandaskan keahlian dan pengalaman saintifiknya. “Yang saya tuangkan ke dalam proposal itu lebih seperti mimpi sih. Saya seperti menuliskan apa yang ingin saya lakukan dan goals ke depannya itu seperti apa. Jadi kita harus think big dalam mengonsep sebuah proposal penelitian,” pungkas Osi.

Sebagai informasi, program L’Oreal-UNESCO for Women in Science (FWIS) merupakan bentuk kerja sama yang terjalin antara UNESCO dengan PT. L’Oreal di Paris, Prancis, untuk mengapresiasi serta mendorong peran serta aktif kaum perempuan di bidang sains. Program kerja sama ini telah terjalin selama 22 tahun di tingkat internasional, dan diselenggarakan di Indonesia sejak 17 tahun yang lalu. Di level nasional, implementasi program L’Oreal-UNESCO FWIS dijalankan oleh PT. L’Oreal Indonesia bekerja sama dengan KNIU Kemendikbud, dan setiap tahunnya penghargaan diberikan kepada empat peneliti perempuan muda Indonesia yang menggeluti bidang Material Sciences dan Life Sciences. Selanjutnya, dari keempat pemenang di tingkat nasional tersebut akan diseleksi kembali untuk dikirim sebagai perwakilan di program L’Oreal-UNESCO FWIS tingkat internasional (International Rising Talents Programme). Hingga saat ini, telah terdapat 57 penerima penghargaan nasional dan 5 orang di antaranya telah memperoleh penghargaan internasional. Selain FWIS, di Indonesia terdapat pula program-program lain untuk mendukung perempuan yang aktif berkecimpung di bidang sains, yaitu L’Oreal Sorority in Science yang merupakan program beasiswa bagi mahasiswi dan L’Oreal Girls in Science yang merupakan program kompetisi sains bagi pelajar putri tingkat SMA.(DAS)

L’Oreal-UNESCO for Women in Science

Baca juga:

Terbuka Kesempatan Pengajuan Aplikasi L’Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

 

Ikuti akun media sosial KNIU Kemendikbud:

Facebook: Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO

Twitter: kniukemdikbud

Instagram: kniukemdikbud



Leave a Reply