KNIU Mengundang Kota dan Kabupaten di Indonesia untuk Menjadi Anggota Kota Pembelajaran UNESCO

KNIU, Bekasi—Pada 6—8 September 2021 Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riste, dan Teknologi (Kemendikbudristek), menyelenggarakan Sosialisasi Call for Application UNESCO Global Network of Learning Cities (GNLC) di Aston Imperial Bekasi, Bekasi, Jawa Barat. Acara tersebut bertujuan untuk menyosialisasikan undangan pengajuan proposal dan panduan pendaftaran program kota pembelajaran UNESCO (UNESCO GNLC) 2021 serta menginformasikan manfaat menjadi anggota kota pembelajaraan tersebut.

Sosialisasi Call for Application UNESCO GNLC dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan serta secara virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting. Acara tersebut dibuka oleh Ketua Harian KNIU, Arief Rachman dan dihadiri oleh plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM), Anang Ristanto; Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Febrina Kusumawati; perwakilan Kemenlu, Kemen-PPN/Bappenas, Kemenko-PMK, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dinas Pendidikan Kota Surabaya; Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Yogyakarta; Kepala Humas, Penerbitan, dan Kerja Sama Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Dodi Pribadi; perwakilan UNESCO Office Jakarta, Pengurus Pusat Ikatan Penerbit Indonesia Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi); Koordinator Nasional Education for Sustainable (ESD), Ananto Kusuma Seta; Koordinator Nasional Associated School Project Network (ASPNet), Hasnah Gasim; plt. Koordinator Kerja Sama Luar Negeri, Yunitasari; serta pejabat dan staf KNIU.

Pada kesempatan itu Arief menjelaskan bahwa kota pembelajaran (learning city) menurut UNESCO Lifelong Learning (UIL) adalah kota yang secara efektif mampu memobilisasi segala sumber dayanya untuk :

  1. Mempromosikan pembelajaran sepanjang hayat dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi;
  2. Merevitalisasi pembelajaran di dalam keluarga maupun komunitas sekitar;
  3. Memfasilitasi pembelajaran untuk ikut serta di dalam dunia kerja;
  4. Memperluas penggunaan pembelajaran berbasis teknologi informasi terkini;
  5. Meningkatkan kualitas serta kesempurnaan dalam pembelajaran; serta
  6. Memelihara budaya pembelajaran melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Arief juga menjelaskan bahwa kota-kota yang menjadi menjadi anggota UNESCO GNLC akan menerima manfaat berupa :

  1. Bimbingan dan dukungan selama pengusulan menuju kota pembelajaran;
  2. Pengakuan atas usaha dan penampilan aksi nyata pemerintah kota; dan
  3. Menjadi bagian dari jaringan dinamis serta memperkuat kemitraan dan jaringan kota.

Kota pembelajaran penting dilaksanakan untuk mempromosikan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua, khususnya para peserta didik sebagai landasan untuk membangun sektor sosial, ekonomi, dan lingkungan berkelanjutan,” ujar Ananto. Dengan mengintegrasikan Education for Sustainable Development (ESD) ke dalam kota pembelajaran, maka masyarakat Indonesia, khususnya para peserta didik berkesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan adil.

Tambah Hasnah, “UNESCO Associated School Project Network (ASPNet) yang menjadi wadah UNESCO untuk mencapai perdamaian dunia melalui peningkatan kualitas pendidikan “SDG 4.7” mendorong para pemelajar untuk menjadi masyarakat global yang kreatif dan bertanggung jawab melalui pendidikan kewargaan global (GCEd) guna mencapai keamanan dan kedamaian dunia.” Penerapan ESD dan GCEd akan memampukan masyarakat untuk memiliki nilai, sikap, dan pengetahuan serta kemampuan dan keterampilan dalam berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab di seluruh dimensi perkembangan sosial berskala lokal, nasional, dan global; mempromosikan kesadaran dan pemahaman kritis tentang penyebab konflik berskala lokal, nasional, dan global; serta menguatkan untuk terlibat aktif dalam aktivitas personal dan sosial untuk mencapai dunia yang damai, adil, inklusif, dan berkelanjutan. Penerapan tersebut dilakukan demi mewujudkan generasi yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan prinsip-prinsip global yang bertujuan menjaga bumi untuk keuntungan manusia.

Sampai saat ini Indonesia baru memiliki satu kota pembelajaran UNESCO, yakni Surabaya. Kota tersebut  menjadi kota pembelajaran UNESCO pada 2016. Menurut Febrina, Surabaya akan terus berkomitmen untuk menyuarakan pendidikan inklusif, baik dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Implementasi pendidikan inklusif Kota Surabaya di antaranya dilaksanakan dengan menyampaikan materi ajar melalui media-media lokal.

Selama menjadi anggota UNESCO GNLC, Kota Surabaya mendapat banyak manfaat, antara lain, ialah dapat saling berbagi informasi dan pengetahuan dengan sesame negara anggota terutama yang memiliki kekhasan kota yang sama serta makin menyadari keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh sumber daya kota sendiri yang dapat dimanfaatkan atau menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas sektor pendidikan kota. Oleh karena itu, Kota Surabaya dengan senang hati membuka forum diskusi dengan kota-kota lainnya di Indonesia yang berminat turut menjadi kota pembelajaran UNESCO,” lanjut Febrina.

Pada kesempatan itu Dodi juga menyampaikan perhatiannya mengenai kota pembelajaran UNESCO. Ia menyayankan bahwa Indonesia memiliki 514 kota dan kabupaten (98 kota dan 416 kabupaten) yang tersebar di 34 provinsi hanya memiliki 1 kota pembelajaran. Menurut Dodi, “Berdasarkan pemerolehan data dari kegiatan literasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas), banyak kota dan kabupaten di Indonesia yang pasti mampu memenuhi persyaratan pengajuan proposal UNESCO GNLC. Kegiatan-kegiatan literasi di kota dan kabupaten tersebut bahkan yang berada di lokasi terpencil sudah mulai baik serta mulai didukung oleh infrastruktur yang makin baik pula. Oleh karena itu, Perpusnas akan mendukung KNIU untuk menyosialisasikan UNESCO GNLC melalui program-program literasinya di daerah, seperti Bunda Literasi, Pojok, Baca, dll. Niscaya dengan kerja sama yang baik dan sosialisasi yang lebih luas, maka pemenuhan target pengajuan dua kota pembelajaran setiap tahun dapat terpenuhi.”

Adapun syarat menjadi kota pembelajaran UNESCO GNLC adalah

  1. Kota pengusul berkonsultasi dan berkoordinasi dengan KNIU selaku narahubung antara UNESCO dengan Pemerintah Indonesia dan sebaliknya;
  2. Berkomitmen untuk mengimplementasikan dokumen panduan UNESCO GNLC;
  3. Melengkapi formulir aplikasi keanggotaan dan melampirkan surat dukungan resmi dari walikota kota pengusul;
  4. Mengirimkan formulir aplikasi kepada KNIU melalui pos-el kniu@kemdikbud.go.id untuk mengajukan permohonan surat rekomendasi dari KNIU (pos-el tersebut harus ditembuskan kepada the UNESCO GNLC Coordination Team at the UNESCO Institute for Lifelong Learning (UIL) (learningcities@unesco.org), kemudian KNIU akan mengirimkan dokumen lengkap kepada tim koordinasi. Bagi kota-kota yang berhasil menjadi kota pembelajaran UNESCO, maka kota tersebut berkewajiban untuk berkomitmen untuk mendorong visi menyediakan pembelajaran seumur hidup dan menjadi kota pembelajaran; mengadopsi komitmen the Beijing Declaration on Building Learning Cities and the Key Features of Learning Cities; mengirimkan laporan perkembangan proyek kota pembelajaran setiap dua tahun sebagai bentuk komitmen untuk memperpanjang keanggotaan.

Tutup Yunitasari, “KNIU berharap seluruh kota di Indonesia segera menyusul keberhasilan Surabaya sebagai anggota UNESCO Learning Cities dan KNIU siap mengawal kota-kota yang berminat dan berani menjadi anggota UNESCO Learning City selanjutnya.” (pad)



Leave a Reply